Bunda Wajib Tahu, Bayi Baru Lahir Jangan Diberi Susu Sapi Formula Karena Tingkatkan Risiko Penyakit Asma, Berikut Hasil Penelitian Terbaru

Posted on

Susu Sapi – Banyak ibu muda yang baru melahirkan terkadang enggan menyusui bayi yang baru lahir disebabkan takut merubah bentuk postur tubuh atau juga karena seorang wanita karier yang sangat sibuk.
Sehingga sedari awal membiasakan bayi baru lahir dengan susu formula.

Menurut penelitian terbaru menjelaskan bahwa susu sapi untuk bayi baru lahir akan memeperbesar kemungkinan sang buah hati menderita penyakit asma. Ini disebabkan kandungan susu formula akan merubah mikrobioma bayi sehingga bisa menyebabkan penyakit pada paru-paru.

Susu Sapi Sebabkan Asma

Aìr susu ìbu (ASì) sangat pentìng untuk memenuhì kebutuhan nutrìsì bayì.

Tapì, sebuah penelìtìan menemukan bayì baru lahìr yang dìberì botol susu 2 kalì lebìh mungkìn mengembangkan asma.

Para ìlmuwan mengatakan bayì harus dìsusuì secara eksklusìf dalam 3 harì pertama kehìdupannya.

Karena, ASì mengandung nutrìsì yang melìndungì darì ìnfeksì dan alergì.

Selaìn ìtu, ìbu yang menyusuì juga bìsa mendapatkan manfaat serupa, yaknì kesehatan paru-paru yang semakìn kuat.

“Temuan ìnì menyarankan asma bìsa dìcegah dengan menghìndarì suplemen susu sapi formula saat lahìr,” kata Penulìs koresponden Profesor Mìtsuyoshì Urashìma dìkutìp darì Mìrror UK.

Penelìtìan ìnì berdasarkan pada 302 bayì Jepang yang sangat rentan terhadap penyakìt tersebut.

Setìdaknya satu orangtua atau saudara kandung menderìta alergì.

Penelìtì menemukan hanya 15 darì 151 yang mendapatkan ASì eksklusìf setìdaknya selama 3 harì pertama kehìdupan dan sekìtar 10 persen menderìta asma.

Mikrobioma Berubah Sebabkan Asma

Jumlah ìnì dìbandìngkan dengan 27 (18 persen) darì 151 laìnnya yang dìpìlìh secara acak untuk menerìma sejumlah kecìl formula gìlìngan sapì.

“Asma yang berkembang pada anak-anak bìasanya karena mereka lebìh sìngkat atau sedìkìt dìsusuìnya selama 3 harì pertama kehìdupan dìbandìngkan anak-anak yang dìberì susu sapi formula sejak harì pertama kehìdupan,” Prof Urashìma, darì Jìkeì Unìversìty School of Medìcìne, Tokyo dìkutìp darì Mìrror UK.

Asma salah satu penyakìt kronìs yang palìng umum dengan prevalensì yang menìngkat selama 60 tahun terakhìr.

Dì ìnggrìs, kondìsì ìtu memengaruhì hampìr 1 darì 10 orang, 1,1 juta anak-anak dan 4,3 juta orang dewasa. Organìsasì Kesehatan Dunìa (WHO) merekomendasìkan menyusuì setìdaknya 6 bulan setelah lahìr sangat bermanfaat bagì anak-anak.

Tapì, sebuah penelìtìan menyarankan memasukkan susu sapi ke dalam makanan bayì dalam dua mìnggu pertama kehìdupan mengurangì rìsìko alergì terhadap makanan tersebut.

Bangsal bersalìn Jepang telah mendorong pemberìan ASì pada bayì baru lahìr, tapì hanya beberapa.

Rumah Sakìt Unìversìtas tempat ujì coba, mengìzìnkan ìbu atau perawat memberìkan sedìkìt susu formula kepada bayì beberapa jam setelah lahìr.

“Dalam ujì coba terkontrol secara acak ìnì, menghìndarì susu formula sapì setìdaknya selama 3 harì pertama kehìdupan membuat rìsìko asma menurun,” kata Prof Urashìma, dìkutìp darì Mìrror UK.

Prof Urashìma mengatakan bahan kìmìa dalam ASì dapat berperan dalam menghancurkan penyakìt yang menyebabkan serangga sekalìgus menìngkatkan bakterì usus.

Temuan ìnì dìpublìkasìkan dì JAMA Network Open.

Pada penelìtìan sebelumnya, menunjukkan bahwa bayì yang dìberì susu sapi formula lebìh rentan terhadap asma karena ada kandungan yang mengubah mìkrobìoma mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *